PALANGKA RAYA – UPT. Taman Budaya Kalimantan Tengah menjadi saksi bisu sebuah mahakarya seni pertunjukan yang inovatif pada Jumat (24/04/2026) malam. Pentas bertajuk Sendratari Rubui Manawang garapan sutradara Benny M. Tundan ini berhasil memukau penonton dengan mengangkat tema unik: “Artificial Intelligence (AI) dan Jejak Spiritual Nini Punyut Dayak Ma’anyan”.

Penciptaan karya kreatif inovatif ini merupakan hasil dukungan program Dana Indonesia Raya (sebelumnya Dana Indonesiana) dari Kementerian Kebudayaan dan LPDP.

Benny M. Tundan mengungkapkan bahwa pertunjukan ini melibatkan sedikitnya 75 orang yang terdiri dari tim produksi dan talenta seni lokal Kalimantan Tengah dengan masa persiapan selama dua bulan.

Menurut Benny, “Rubui Manawang” edisi kedua ini tidak hanya sekadar tarian, tetapi merupakan upaya menggali kembali kecerdasan intelektual leluhur Dayak Ma’anyan, khususnya sosok Nini Punyut.

“Kita membuktikan bahwa kecerdasan intelektual dari leluhur kita, Nini Punyut, ternyata sangat relevan untuk peradaban masa depan. Karya ini adalah perjalanan spiritual bagaimana leluhur menyusun tata kehidupan dan hukum adat yang masih berlaku hingga kini,” ujar Benny saat ditemui di sela kegiatan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pertunjukan kali ini juga menyentuh aspek sejarah keterkaitan antara Kerajaan Nan Sarunai dan Kerajaan Majapahit, sebagai simbol kerinduan akan kejayaan Nusantara di masa lampau.

Salah satu sorotan utama dalam pementasan ini adalah integrasi teknologi digital dan isu Artificial Intelligence (AI). Benny menekankan bahwa seni pertunjukan harus mampu mendorong generasi muda untuk lebih mencintai literasi (membaca dan menulis) di tengah gempuran teknologi.

“Harapan kita, seni ini larinya ke literasi. Terkait AI, pesannya adalah kita harus berhati-hati, namun di sisi lain kita membuktikan bahwa AI sebenarnya adalah cermin dari otak manusia itu sendiri,” tambahnya.

Kegiatan ini mendapatkan apresiasi tinggi dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Saat membacakan sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kalteng, Kepala UPT. Taman Budaya Kalteng, Wildae Binti menekankan bahwa pentas seni ini merupakan refleksi bagi generasi penerus untuk menjadi pembaca sejarah yang kritis dan penulis narasi masa depan yang bijak.

“Rubui Manawang adalah penghormatan bagi ketangguhan jiwa leluhur yang mampu menembus ruang dan waktu. Masa depan ada di tangan mereka yang tekun membaca dunia dan berani menuliskan sejarahnya,” tegas Kepala UPT. Taman Budaya saat membacakan sambutan tersebut.

Kegiatan yang disupport penuh oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Taman Budaya ini diharapkan dapat menjadi pemacu semangat bagi para pegiat seni lokal untuk terus mensubmit proposal karya kreatif melalui dana stimulan pemerintah guna melestarikan budaya sekaligus berinovasi di era digital. (Ctr)