Palangka Raya – Industri kelapa sawit masih kerap menjadi sasaran berbagai isu, mulai dari persoalan lingkungan, sosial, hingga kesehatan. Namun, banyak dari isu tersebut dinilai lebih didominasi oleh mitos yang tidak didukung fakta ilmiah.

Hal itu disampaikan Dr. Ir. Rawing Rambang, MP., dosen Universitas Kristen Palangka Raya (UKPR) sekaligus pengamat perkebunan yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Tengah periode 2012–2020. Menurut Rawing, persepsi negatif terhadap sawit perlu diluruskan agar penilaian terhadap komoditas strategis tersebut lebih objektif.

“Industri sawit sering disudutkan oleh informasi yang simpang siur. Padahal, jika dilihat dari data ilmiah, banyak anggapan itu tidak sesuai fakta,” ujar Rawing di Palangka Raya, Senin (5/1/2025).

Ia menjelaskan, salah satu mitos yang paling sering muncul adalah anggapan bahwa minyak sawit tidak sehat dan dapat menyebabkan kanker. Faktanya, kata Rawing, minyak sawit tidak mengandung kolesterol dan justru kaya akan vitamin E yang bermanfaat bagi tubuh.

Mitos lainnya adalah tudingan bahwa industri sawit tidak menciptakan lapangan kerja. Rawing menegaskan, sektor ini justru menyerap jutaan tenaga kerja, tidak hanya di negara produsen seperti Indonesia, tetapi juga di negara pengimpor seperti China dan India, sehingga berkontribusi signifikan dalam menekan angka pengangguran.

Selain itu, sawit juga kerap dianggap boros air. Berdasarkan data penelitian, Rawing menyebutkan bahwa kelapa sawit merupakan tanaman penghasil bioenergi yang paling hemat air, yakni sekitar 75 meter kubik per gigajoule, jauh lebih rendah dibandingkan rapeseed, kelapa, maupun kedelai.

Terkait isu deforestasi dan perubahan iklim, Rawing mengakui bahwa deforestasi merupakan tantangan nyata. Namun, ia menilai perubahan iklim tidak bisa semata-mata dibebankan pada sawit. “Perubahan iklim itu persoalan kompleks. Sawit sendiri memiliki fungsi sebagai penyerap karbon dan penghasil oksigen jika dikelola dengan baik,” jelasnya.

Rawing juga membantah anggapan bahwa industri sawit hanya menguntungkan pengusaha besar. Menurutnya, sawit memberikan kontribusi besar terhadap devisa negara, pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta pembangunan desa melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Ia menekankan, solusi atas berbagai tantangan di sektor sawit bukanlah dengan stigma, melainkan melalui penerapan praktik perkebunan berkelanjutan. “Kesimpulannya, menilai sawit harus berdasarkan data ilmiah, bukan asumsi,” tegas Rawing. (red)