Palangka Raya, Langkah Kalteng – Sekretaris Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Rana Muthia Oktari menilai penurunan jumlah siswa di Sekolah Rakyat Kota Palangka Raya dinilai bukan semata persoalan ekonomi, tetapi juga akibat minimnya pemahaman orang tua terhadap manfaat program pendidikan tersebut. Sabtu (17/1/26).
Kepada awak media, Rana Muthia Oktari menuturkan bahwa masih banyak orang tua yang belum melihat sekolah rakyat sebagai solusi pendidikan jangka panjang bagi anak-anak mereka.
“Justru adanya persepsi keliru terkait kualitas pendidikan serta kurangnya informasi mengenai fasilitas dan pendampingan yang diberikan menjadi pemicu utama anak ditarik dari sekolah, ” tutur Sekretaris Komisi III DPRD Palangka Raya tersebut.
Sekretaris Komisi III DPRD Palangka Raya tersebut menegaskan program ini sebenarnya memberikan manfaat nyata bagi anak-anak, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dukungan fasilitas dan pemdampingan.
“Sangat disayangkan jika anak-anak harus berhenti di tengah jalan, padahal program sekolah rakyat ini memang dirancang tidak hanya untuk memberikan pendidikan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini, ” tegas Rana Muthia Oktari.
Lebih lanjut, Ia menilai jika kondisi ini dibiarkan, maka akan berdampak pada meningkatnya risiko putus sekolah, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Kita tidak boleh membiarkan anak kehilangan hak dasar atas pendidikan hanya karena kesalahpahaman atau kondisi ekonomi.
“Oleh sebab itu, DPRD mendorong pemerintah kota (Pemko) melalui dinas terkait agar lebih aktif melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat, sehingga orang tua memahami manfaat program dan tidak ragu melanjutkan pendidikan anaknya di sekolah rakyat, ” beber Rana Muthia OktariĀ Sekretaris Komisi III DPRD Palangka Raya tersebut. (red / ist)

Tinggalkan Balasan