LANGKAHKALTENG, PALANGKA RAYA – Upaya melestarikan musik tradisi Dayak kini memasuki babak baru melalui pendekatan digital. Tim Inovasi Musik Tradisi Dayak: Revitalisasi Aransemen dengan Teknologi Digital dan Manajemen Sanggar Berkelanjutan menggelar pelatihan teknik permainan alat musik dan pengembangan kapasitas ide kreatif dalam mengolah komposisi musik tradisi di sanggar Hinting Lanting, Jumat (24/10/2025).
Ketua tim, Hendro T.G. Samosir, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menghidupkan kembali musik tradisional Dayak dengan sentuhan modern tanpa meninggalkan nilai-nilai aslinya.

“Di sini kami membahas bagaimana menginovasi musik tradisi Dayak menjadi digital. Ada revitalisasi aransemen dan komposisi yang sedikit mengadopsi unsur musik barat. Selain itu, kami juga mengadakan pelatihan teori dasar musik,” ujar Hendro.
Hendro didampingi sejumlah anggota, di antaranya M. Ahsin Maulana, S.Pd., M.Pd. sebagai anggota 1, Bayu Pratama Nugroho, S.Kom., M.T. sebagai anggota 2, dan Nurlia Eka Damayanti, M.Si. sebagai anggota 3. Mereka mendampingi peserta dari berbagai sanggar seni lokal yang berpartisipasi aktif dalam pelatihan tersebut.
“Anak-anak dari sanggar ini kami latih teori dasar musik agar mampu mengembangkan aransemen reportoar tradisional mereka. Harapannya, karya mereka bisa dikenal di tingkat nasional bahkan internasional,” tambah Hendro.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa hasil dari pelatihan ini akan ditampilkan dalam pementasan pada 26 November 2025 di Gedung Serbaguna IAKN Palangka Raya.
Hendro menjelaskan, program ini telah berjalan sejak awal Oktober 2025. Rangkaian kegiatannya meliputi sosialisasi, pelatihan teori dasar musik, teknik bermain musik berkelanjutan, hingga pelatihan manajemen sanggar dan pembuatan konten musik digital.
“Dengan pembekalan ini, para peserta diharapkan mampu membuka peluang ekonomi kreatif, membangun sanggar baru, dan menjadi kreator konten musik digital yang produktif,” tutup Hendro.
Program inovatif ini menjadi langkah konkret memperkuat posisi musik tradisi Dayak di tengah era digital, sekaligus memperluas peran budaya lokal dalam industri kreatif nasional. (red)

Tinggalkan Balasan