Palangka Raya, Langkah Kalteng ID – Dalam rangka melestarikan Seni Budaya Daerah, Yayasan Rumah Budaya Panjawa Tingang Menggelar Opera Nyai Nyalong Apoy 3 Pertempuran Lima Ksatria Produksi Ke 40, bertempat UPT Taman Budaya Kalteng, Palangka Raya, pada Jumat (20/02/26) malam.

Sebagai informasi, Sebuah pertunjukan teater yang menghadirkan kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan keberanian, dibalut dalam kekuatan visual serta nilai budaya Dayak yang autentik dan relevan untuk generasi hari ini.

Opera Nyai Nyalong Apoy 3 Pertempuran Lima Ksatria produksi ke-40 Yayasan Rumah Budaya Pajawan Tingang yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan melalui program Pemanfaatan hasil kelola dana abadi kebudayaan. Produksi ke-40 ini menjadi momentum perayaan perjalanan panjang Yayasan Rumah Budaya Pajawan Tingang dalam merawat dan menghidupkan seni pertunjukan Dayak di ruang publik.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Rumah Budaya Panjawa Tingang, Arbendi I Tue mengatakan Nyai Nyalong Apoy 3 Pertempuran Lima Ksatria adalah episode terakhir sejak tahun 2024.

“Oleh karena itu, melalui Dayak Opera ini kami Yayasan Rumah Budaya Panjawa Tingang ingin memberikan stigma yang baik bahwa Dayak adalah orang-orang yang luar biasa dan semoga ini menjadi inspirasi kita bersama, ” ucapnya.

Foto Ketua Yayasan Rumah Budaya Panjawa Tingang, Arbendi I Tue 

Arbendi I Tue menegaskan dalam opera ini kami ingin menunjukan bahwa Dayak Opera ini adalah Dayak itu sangat kaya akan kekayaan dayak.

“Sehingga melalui dayak opera ini kami ingin memperkenalkan kekayaan dayak itu bukan hanya di dalam kancah lokal, tapi sampai panggung internasional, Karena opera adalah perkunjukan universal, perkunjukan yang mendunia, ” tegas Ketua Yayasan Rumah Budaya Panjawa Tingang tersebut.

Sementara, Gubernur Kalimantan Tengah yang diwakili oleh Kepala UPT Taman Budaya Provinsi Kalimantan Tengah, Wildae D. Binti, SE., M.Si mengatakan atas nama pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang berlibat dan secara khusus kepada rumah budaya Panjawa Tingang akan konsistensinya dalam mengangkat cerita Dayak.

“Dan juga secara khusus pertunjukan Opera ini adalah salah satu bentuk pertunjukan seni yang agak berbeda dibandingkan pertunjukan senjata tari lainnya, tetapi kekuatan, ” ungkapnya.

Foto Bersama

Dikatakannya, Pertunjukan seni ini bukan sekedar hiburan visual, Melainkan sebuah manifestasi dari dedikasi, disiplin, dan kecintaan kita terhadap kekayaan budaya bangsa. Seni adalah bahasa universal melalui gerak, nada, dan rupa kita diingatkan kembali akan nilai-nilai luhur, etika, serta jati diri kita sebagai bangsa yang besar dan berbudaya.

“Hal ini memang berbahagia di tengah kekurang modernisasi dan kesejahteraan kita dengan teknologi, kegiatan seperti ini memiliki peran krusial sebagai benteng pertahanan budaya kita, ” kata Wildae.

Lebih lanjut, Ia berharap pertunjukan ini nantinya akan dapat menjadi wadah ekspresi menghidupkan ekonomi kreatif dan juga menjaga warisan, Sehingga memastikan bahwa nilai-nilai tradisi kita tidak hilang melainkan bertransformasi menjadi kekuatan baru khusus pada generasi muda.

“Teruslah berkarya jangan takut untuk berekspresi, bereksperimen, Namun jangan pernah juga melupakan apa yang menjadi akar budaya kita suku dayak Kalimantan Tengah. Karena Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berkomitmen untuk terus mendukung ekosistem yang sehat dari ekosistem seni ini agar para seniman kita memiliki panggung yang layak baik di tingkat nasional maupun internasional, ” tutur Wildae D. BintiKepala UPT Taman Budaya Prov. Kalteng tersebut.

 

Sumber : ctr / tn-t7