Murung Raya, 3 Mei 2026 – Memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia yang diproklamirkan pada 3 Mei 1993, Didi Nurhadi (Babe), Praktisi dan pengamat media lokal merilis seruan kuat yang ditujukan kepada para pemangku kebijakan pemerintah. Dalam refleksi mendalam mengenai tema global tahun ini, “Shaping a Future at Peace”, Babe menegaskan bahwa masa depan yang damai dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan mustahil tercapai tanpa pers yang merdeka, independen, dan berintegritas, terutama di tingkat lokal.

Seruan ini merupakan evaluasi strategis terhadap tiga pilar risiko struktural dan solusi masa depan yang diidentifikasi oleh laporan tren global UNESCO :

1. Kemerdekaan Pers sebagai Prasyarat Keamanan dan Pembangunan Ekonomi
Babe menekankan bahwa jurnalisme independen adalah jantung dari kepercayaan publik. “Kepercayaan masyarakat adalah mata uang paling berharga dalam pembangunan ekonomi dan keamanan nasional, terutama dalam konteks konflik, krisis, dan pemulihan,” ujar Babe.

“Melindungi jurnalis—termasuk memastikan keamanan jurnalis perempuan—tidak dapat dipisahkan dari melindungi hak fundamental masyarakat atas informasi yang jujur dan akurat.”

2. Navigasi Integritas di Era Disrupsi Digital dan Kecerdasan Buatan (AI)
Menganalisis pergeseran global di mana algoritma dan AI mulai membentuk kembali kebebasan berekspresi, Babe memperingatkan akan ancaman terhadap independensi media dan kepercayaan publik.

Ia menyerukan urgensi literasi media yang masif dan kerangka kerja tata kelola yang berlandaskan Hak Asasi Manusia (HAM) serta kesetaraan gender untuk menanggapi transformasi ini.

3. Vitalitas Keberlangsungan, Pluralisme, dan Inklusi Media Lokal

Poin paling krusial dalam narasi Babe adalah seruan untuk memperkuat ekosistem media lokal. Babe mendesak pemerintah untuk menavigasi jalur menuju keberlanjutan media, termasuk merespons dominasi platform global dan mendukung media kepentingan publik di daerah. “Jalur-jalur ini sangat penting untuk memajukan kesetaraan gender, mengangkat suara-suara terpinggirkan, dan melibatkan audiens muda,” jelasnya.

Seruan untuk “Kemerdekaan Hakiki” Jurnalis Lokal

Sebagai penutup, Didi Nurhadi (Babe) menitipkan harapan besar agar momentum Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 ini tidak sekadar menjadi perayaan, tetapi menjadi titik balik bagi kemerdekaan yang hakiki bagi para jurnalis di daerah.

“Semoga momentum ini menjadi kebangkitan profesionalisme. Kita ingin jurnalis lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara profesional, mampu mengadaptasi teknologi, dan tetap memegang teguh kode etik dalam menyajikan informasi berkualitas melalui berbagai media. Kemerdekaan mereka adalah kemerdekaan publik,” pungkas Babe.

Narasi ini diharapkan dapat menjadi rujukan opini publik dan bahan pertimbangan bagi para pemangku kebijakan pemerintah untuk merumuskan kebijakan yang lebih inklusif dan suportif terhadap ekosistem pers nasional dan lokal yang sehat. (Red)