KATINGAN, LANGKAHKALTENG.ID – Tradisi manugal atau menanam padi secara tradisional masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Lebih dari sekadar kegiatan bercocok tanam, manugal mengandung nilai budaya, kebersamaan, gotong royong, serta pengetahuan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Nilai-nilai tersebut menjadi alasan bagi Yongi, putra daerah asal suku Dayak dari Desa Tumbang Boloi, Kecamatan Telaga Antang, Kabupaten Kotawaringin Timur, untuk memperkenalkan tradisi manugal kepada masyarakat luas melalui kegiatan penanaman padi yang direncanakan berlangsung pada Sabtu, 10 Oktober 2026, di Desa Dehes Asem, Kecamatan Katingan Hulu, Kabupaten Katingan.

Yongi berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi aktivitas pertanian, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan kearifan lokal masyarakat Dayak yang masih dipraktikkan hingga saat ini.

Menurutnya, manugal memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar memasukkan benih padi ke dalam lubang tanah. Tradisi ini mencerminkan hubungan erat antara manusia, alam, dan kehidupan sosial masyarakat yang tumbuh melalui kebiasaan berladang.

Melalui manugal, masyarakat juga belajar bekerja bersama, saling membantu, dan menjaga semangat kebersamaan dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Pemuda Dayak Punya Peran Melestarikan Tradisi

Yongi menilai keterlibatan generasi muda menjadi salah satu hal penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi manugal. Menurutnya, pengetahuan tentang cara berladang secara tradisional perlu terus diperkenalkan agar tidak terputus oleh perubahan zaman.

Ia berharap generasi muda Dayak tidak hanya mengenal manugal sebagai bagian dari cerita orang tua dan leluhur, tetapi juga memahami nilai budaya dan pengetahuan lokal yang terkandung di dalamnya.

Pengenalan tersebut dapat dilakukan melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan berladang, sehingga generasi muda memperoleh pengalaman sekaligus memahami makna tradisi yang diwariskan oleh para pendahulu mereka.

Bagi Yongi, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan mengenang tradisi pada acara tertentu. Budaya juga perlu tetap dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya terus hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melestarikan Kearifan Lokal dengan Tetap Menjaga Alam

Selain menekankan pentingnya pelestarian budaya, Yongi juga mengingatkan bahwa kegiatan berladang harus memperhatikan aturan yang berlaku serta kelestarian lingkungan.

Menurutnya, tradisi manugal perlu dipahami sebagai bagian dari pengetahuan lokal masyarakat Dayak dalam mengelola lahan dan memenuhi kebutuhan pangan. Karena itu, pelaksanaannya harus tetap memperhatikan kondisi alam dan tidak mengabaikan upaya menjaga lingkungan.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah perhatian terhadap pengelolaan lahan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah.

Melalui kegiatan di Desa Dehes Asem, Yongi berharap masyarakat semakin mengenal tradisi manugal sekaligus memahami pentingnya menjalankan aktivitas pertanian secara bertanggung jawab.

Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat membuka ruang bagi generasi muda untuk lebih dekat dengan kebudayaan daerahnya sendiri.

Dengan demikian, tradisi manugal tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak yang relevan dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam. (red)