Palangka Raya, 17 November 2025 — Di tengah derasnya arus modernisasi yang mengaburkan batas tradisi, seni dan budaya lokal menjadi jangkar yang menjaga jati diri masyarakat. Di Kalimantan Tengah di wilayah yang dihuni lebih dari 400 sub-suku Dayak dengan keragaman tradisi yang memukau, warisan budaya bukan sekadar simbol, melainkan napas hidup yang menyatukan sejarah, kebijaksanaan leluhur, dan kebanggaan kolektif.

Kesadaran akan pentingnya warisan ini menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk memperkuat komitmen pelestarian budaya. Kepala UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah, Wildae D. Binti, menegaskan hal tersebut ketika ditemui awak media. Ia menilai pelestarian budaya bukan hanya penguatan identitas, tetapi juga investasi jangka panjang untuk karakter generasi masa depan.

“Pemerintah tidak hanya menjaga apa yang sudah ada, tetapi juga mendorong agar seni budaya kita tetap relevan di masa kini,” ujar Wildae.

Komitmen tersebut tampak dalam berbagai langkah strategis: mulai dari pendataan warisan budaya, penyelenggaraan festival seni, pemberdayaan sanggar-sanggar lokal, hingga masukan tentang penguatan kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah. Semua upaya itu dirancang untuk memastikan budaya Dayak tidak hanya dilihat sebagai memorabilia, tetapi hidup dan tumbuh bersama dinamika masyarakat modern.

Kalimantan Tengah dikenal memiliki ragam tarian tradisional yang sarat filosofi: Balian Dadas, Giring-Giring, Manasai, Kinyah Mandau, Legenda sejarah Tambun dan Bungai, hingga Manganjan. Setiap tari membawa pesan, tentang penyembuhan, keberanian, rasa syukur, hingga kegembiraan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di balik keindahan setiap gerak, tersimpan nilai yang tak dapat digantikan teknologi maupun tren budaya luar.

Namun perjalanan pelestarian budaya tidak tanpa hambatan. Wildae menyebutkan, regenerasi pelaku seni masih berjalan lambat. Banyak anak muda yang lebih akrab dengan budaya global ketimbang nilai tradisi di tanah kelahirannya sendiri. Sementara itu, kesenjangan perhatian di beberapa daerah juga membuat sejumlah seni tradisi terancam redup.

“Pemerintah memang berkomitmen kuat, tetapi kami tidak bisa bekerja sendiri,” katanya.

Di sinilah peran generasi muda menjadi krusial. Wildae percaya anak muda Kalteng harus mengambil peran sebagai pelaku, inovator, sekaligus duta budaya yang mampu membawa nilai-nilai Dayak ke panggung yang lebih luas. Bukan sekadar mempertontonkan tradisi, tetapi menghidupkannya kembali dengan kreativitas tanpa kehilangan ruh aslinya.

“Budaya akan tetap hidup bila generasi mudanya ikut merawat,” tegasnya.

Pelestarian budaya bukan tentang meromantisasi masa lalu, tetapi memastikan bahwa nilai-nilai luhur tetap mengalir ke masa depan. Ketika seni tradisi terus hidup, ia memupuk identitas, memperkuat persatuan, dan menjadi sumber kearifan lokal yang relevan bagi zaman apa pun.

Kalimantan Tengah memiliki pondasi kuat: warisan leluhur, kekayaan seni, dan komunitas budaya yang masih bertahan. Yang kini dibutuhkan adalah gerak bersama antara pemerintah, masyarakat, sanggar seni, komunitas adat, hingga para pewaris muda, untuk memastikan budaya Dayak tetap berdiri tegak, tidak hanya sebagai ingatan, tetapi sebagai kekuatan hidup yang menginspirasi.

Pada akhirnya, pelestarian budaya bukan lagi sekadar kewajiban pemerintah atau tanggung jawab komunitas tertentu. Ia adalah kebanggaan bersama. Sebuah wujud syukur bahwa Kalimantan Tengah dianugerahi kekayaan yang tak ternilai, dan tugas generasi hari ini adalah memastikan ia tetap bersinar di tengah perubahan zaman.